Text
ADAT LUMAQ NAFAS KEHIDUPAN DAYAK BAHAU
Ladang bagi masyarakat Dayak, seperti pada suku Dayak Bahau, merupakan salah satu sumber pembentuk kebudayaan Dayak. Ladang merupakan nafas kehidupan bagi masyarakat Dayak. Dalam tradisi perladangan terkandung nilai, norma dan perilaku tertentu yang berorientasi pada aturan leluhur. Menurut Dr. Michael R. Dove, pola perladangan suku Dayak mengandungi pelajaran menarik tentang ekologi dan ekonomi perladangan. Dalam buku yang berjudul “Adat Lumaq Nafas Kehidupan Dayak Bahau” diuraikan secara rinci mengenai pola perladangan yang berlaku pada suku Dayak Bahau Umaq Telivaq, Umaq Luhat, Bahau Busang dan Bahau Bateeq. Sekalipun terdapat beberapa variasi, namun sejatinya terdapat kesamaan ideology dan filosofi sekaitan dengan pola perladangan yang mereka warisi secara turun temurun dari para leluhur. Dalam tradisi perladangan, suku Dayak Bahau dikenal aturan tertentu yang dipatuhi bersama. Aturan mengenai tanda dan bata ladang (nyang/hang), sejatinya memberikan penegasan tentang mekanisme mengelola konflik dalam kegiatan ladang. Bahkan, mereka juga mengenal sejumlah pantangan, serta sanksi terhadap pelaku pelanggaran pantangan. Bagi kaum perempuan, dalam tradisi perladangan suku Dayak Bahau, kaum perempuan mendapat tempat yang setara terutama dalam kerangka pemahaman filosofi, seperti misalnya dewi padi adalah seorang perempuan, pemegang adat ladang lazimnya seorang perempuan. Namun dalam konteks praktis, terutama dalam arena publik, apakah tradisi perladangan itu sungguh memberikan peranan setara dan adil terhadap perempuan Dayak? Seiring dengan perkembangan zaman, yang amat memungkinkan terjadinya perubahan budaya, perkara kesetaraan dan keadilan antara perempuan dan laki-laki dalam tradisi perladangan, layak menjadi kepedulian utama.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain